Langsung ke konten utama

AKHIR 2024

Terima kasih  2024

Sepucuk kenangan di tahun ini membuat hatiku kadang merasa takut

Takut akan tak tercapainya semua yang ku inginkan

Surat itu masih sama

Dalam ruang dan kotak yang tersimpan rapat

Tak ada yang mengetahui, bahkan tak ada yang membaca

Aku...

Hanya Aku yang menyimpannya...

Hari berganti, Bulan berganti 

Bahkan Tahun pun akan berganti

Membuka da membacanya pun enggan

Takut semua akan terulang lagi

Tidak...

Aku bisa menghadapinya

Tuhan... hanya Engkaulah yang tahu isi hati manusia

Semua kuserahkan padamu.

Semoga Tahun depan bisa lebih baik 

Dan semua berjalan sesuai rencana-Mu

Aku hanya bisa berdo'a dan menjalankan perintahmu

Tuhan...

Engkau Maha Segalanya

Berikanlah yang Terbaik untuk ku dan orang-orang disekitarku kebaikan

Biarkan Kotak itu tersimpan rapi 

Tuhan...

Jagalah kotak itu untukku



Balikpapan, 31 Desember 2024

Pukul 23.15 Wita.

Penulis @kamalia.lulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA

“ BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA” Melestarikan budaya nenek moyang? Sebuah pertanyaan yang tidak setiap orang mampu untuk menyikapi dengan benar. Lestarikan budaya nenek moyang, nyengkuyung budaya Jawi. Berbagai tanda dan tanya bergejolak dalam hati saya ketika muncul kata “Bucengan”. Tidak setiap teman mahasiswa mampu menjawab pemahaman makna kata dan simbul kebermaknaannya, baik verbal maupun makna nonverbal. Bahkan mungkin jika saya juga menanyakan kepada masyarakat lokal tertentu, kenyataannya kebermaknaan bucengan ini tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Di balik sesuatu yang maujud (nyata oleh mata) ada makna mendasar yang tersimpan dan memancarkan kekuatan batin berupa doa. Kembali terngiang dalam benak saya, pernyataan dari pembimbing akademis saya, Bapak Saptono Hadi, M.Pd. Selanjutnya, kembali sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada saya, “Sudah berapa lama kamu mengenal tumpeng dan buceng? Berapa banyak variasi tumpeng dan buceng yang pernah k...

Salam Terakhir

Pejalanan pekan lalu masih megungatkanku pada bayangan di tepi jalan itu saat kita berhenti sejenak untuk beristirahat. Melamunkan yang telah usai. Malam yang larut dan perbincangan di malam itu ternyata perbincangan terakhir.  Seorang laki-laki itu berpesan "Jangan marahi adeknya, adenya di jaga, disayang, diemong. Sampean wis tambah pinter" "Iya, tapi nanti buatin lemari yang kaya olimpic itu ya pak, biar bisa belajar sendiri, punya tempat buku sendiri, biar bagus pokoknya" kataku. "Iya. Pokok pinter nanti balak buatkan. Adeknya dijaga, gak boleh nakal, manut mamaknya"kata lelaki itu. Malam sudah semakin larut dan mulai berganti pakaian kemudian tidur bersama lelaki paruh baya itu. Perempuan munggil yang manis tidak menyadari bahwa itu pertemuan terakhirnya.  Pagi bangun ksiangan dan semua terburu-buru. Perempua  mungil berangkat ke sekolah dan lelaki paruh baya itu berangkat kerja, karena menunggu temanya lama akhirnya lelaki itu menyiapkan apa yang mau...