Langsung ke konten utama

Belukar Raya

Kudekap erat rasa dalam teduhnya beringin
Semak diatas padang
Merayu luka yang terperohok
Belukar bertanya'' sedang apakah kau bersimpuh?''
Raya mengangguk dalam pandangan bulan
Tanpa sinar mentari, dia pun tetap bersinar
Oh... pembawa luka
Atau kah pembawa tawa
Semua terlanjut basah dalam cahaya luka
Tak ada yang perlu di percaya
Cukup belukar raya yang mampu bertahan
Mengungkap bau yang terlalu tajam dalam susuk yang di tancapkan
Wanita terbujur kaku dalam uraian cahaya Bulan tapi tak bersinar
Ku biarkan...
Dan biar aku yang pergi tanpa membawa tawa
Tak ada rasa tersisa dalam simpuh yang ku terbawa

22.08 WIB
08-06-2020
Kamalia_ Blitar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA

“ BUCENG, NASI BIASA YANG TIDAK BIASA” Melestarikan budaya nenek moyang? Sebuah pertanyaan yang tidak setiap orang mampu untuk menyikapi dengan benar. Lestarikan budaya nenek moyang, nyengkuyung budaya Jawi. Berbagai tanda dan tanya bergejolak dalam hati saya ketika muncul kata “Bucengan”. Tidak setiap teman mahasiswa mampu menjawab pemahaman makna kata dan simbul kebermaknaannya, baik verbal maupun makna nonverbal. Bahkan mungkin jika saya juga menanyakan kepada masyarakat lokal tertentu, kenyataannya kebermaknaan bucengan ini tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Di balik sesuatu yang maujud (nyata oleh mata) ada makna mendasar yang tersimpan dan memancarkan kekuatan batin berupa doa. Kembali terngiang dalam benak saya, pernyataan dari pembimbing akademis saya, Bapak Saptono Hadi, M.Pd. Selanjutnya, kembali sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada saya, “Sudah berapa lama kamu mengenal tumpeng dan buceng? Berapa banyak variasi tumpeng dan buceng yang pernah k...

AKHIR 2024

Terima kasih  2024 Sepucuk kenangan di tahun ini membuat hatiku kadang merasa takut Takut akan tak tercapainya semua yang ku inginkan Surat itu masih sama Dalam ruang dan kotak yang tersimpan rapat Tak ada yang mengetahui, bahkan tak ada yang membaca Aku... Hanya Aku yang menyimpannya... Hari berganti, Bulan berganti  Bahkan Tahun pun akan berganti Membuka da membacanya pun enggan Takut semua akan terulang lagi Tidak... Aku bisa menghadapinya Tuhan... hanya Engkaulah yang tahu isi hati manusia Semua kuserahkan padamu. Semoga Tahun depan bisa lebih baik  Dan semua berjalan sesuai rencana-Mu Aku hanya bisa berdo'a dan menjalankan perintahmu Tuhan... Engkau Maha Segalanya Berikanlah yang Terbaik untuk ku dan orang-orang disekitarku kebaikan Biarkan Kotak itu tersimpan rapi  Tuhan... Jagalah kotak itu untukku Balikpapan, 31 Desember 2024 Pukul 23.15 Wita. Penulis @kamalia.lulu.

Salam Terakhir

Pejalanan pekan lalu masih megungatkanku pada bayangan di tepi jalan itu saat kita berhenti sejenak untuk beristirahat. Melamunkan yang telah usai. Malam yang larut dan perbincangan di malam itu ternyata perbincangan terakhir.  Seorang laki-laki itu berpesan "Jangan marahi adeknya, adenya di jaga, disayang, diemong. Sampean wis tambah pinter" "Iya, tapi nanti buatin lemari yang kaya olimpic itu ya pak, biar bisa belajar sendiri, punya tempat buku sendiri, biar bagus pokoknya" kataku. "Iya. Pokok pinter nanti balak buatkan. Adeknya dijaga, gak boleh nakal, manut mamaknya"kata lelaki itu. Malam sudah semakin larut dan mulai berganti pakaian kemudian tidur bersama lelaki paruh baya itu. Perempuan munggil yang manis tidak menyadari bahwa itu pertemuan terakhirnya.  Pagi bangun ksiangan dan semua terburu-buru. Perempua  mungil berangkat ke sekolah dan lelaki paruh baya itu berangkat kerja, karena menunggu temanya lama akhirnya lelaki itu menyiapkan apa yang mau...