SENI DRAMA SEBAGAI KERJA KOLEKTIF
1
Pengertian Drama.
Pengertian
drama
Drama berasal
dari kata Yunani “Dramanoi” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau
bereaksi. Drama berarti perbuatan, tindakan, atau reaksi. Dalam Bahasa Indonesia terdapat dalam istilah
“sandiwara”. Istilah ini diambil dari bahasa jawa ‘sandi’ dan ‘warah’, yang
berarti pelajaran yang diberikan secara diam-diam atau rahasia. Kata ‘sandi’
berarti raasia, dan kata ‘warah’berarti pelajaran. Istilah sandiwara radion,
sandiwara televise, sandirawar petas penunjukan bahwa kata sandiwara dapat
menggantikan kata drama. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah ‘tonil’(toneel)
yang mempunyai makna sama dengan istilah sandiwara (Waluya 2011).
Drama ini
dikenal selama ini menyebutkan bahwa drama adalah cerita atau tiruan perilaku
manusia yang dipentaskan. Muncul pengertian tersenut jika ditinjau dari makna
kata drama yang suda tepat, kata drama berasal dari kata Yunani dramanoi yang
berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya (Harymawan,
1988:1). Jadi drama berarti perbuatan atau tindakan , drama merupakan gengre
sasta sekaligus sebagai seni pertunjukan.
GB Tennyson
dalam bukunya An Introduction to Drama mengawalinya dengan membedakan istilah
drama dan teater sebagai berikut. Drama berarti melakukan, mengerjakan,
berbuat, bertindak. Sedang teater melihat, memandang, meninjau. Seni drama
memang belum mencapai kesempurnaanya apabila belum sampai pada tingkat
pementasan atau pertunjukan drama sebagai visualisasi atau perwujudannya.
Unsur-unsur drama;
1. Tema
merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama, tema berhubungan dengan
prenis dari drama tersebut yang berhubungan dengan pula dengan nada dasar dari
sebuah drama tersebut yang berhubungan dengan pula dengan nada dasar dari
sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya.
2. Alur
yaitu jalan cerita dari sebuah pertunjukan drama mulai babak pertama hingga
babak terakhir.
3. tokoh
a) Tokoh
antagonis adalah tokoh penantang cerita.
Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita, dan beberapa figur
pembantu yang ikut menentang cerita.
b) Tokoh
protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita, biasanya ada satu atau dua figur tokoh protagonis utama,
yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung
cerita.
c) Tritagonis/
tokoh figuran/ tokoh pembantu adalah tokoh pembantu, baik untuk tokoh
protagonis maupun untuk tokoh protagonis.
4. Penokohan/
perwatakan
Watak
para tokoh itu harus konsisten, dari awal hingga akhir. Watak tokoh protagonis
dan antagonis harus memungkingkan keduanya menjalin pertikaian dan pertikaian
itu kemungkinan untuk perkembangan mencapai klimaks. Kedua tokoh ini haruslah
tokoh-tokoh yang memiliki watak kuat (berkarakter) dan watak yang kuat itu
kontradiktif antara keduanya. Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi
(watak dimensional). Penggmbaran itu berdasrkan fisik, psikis, dan sosial.
Keadaan fisik biasnya dilukiskan paling dulu, baru kemudianj sosialnya. Pelukis
watak pemain dapat langsung pada dialog
yang mewujudkan watak dan perkembangan lakon , tetapi banyak juga kita jumpai
dalam catatan samping (catatan teknis)
5. Latar
/ setting/ tempat kejadian
Latar
yaitu tempat suatu kejadian cerita.
Penentuan ini harus secara cermat sebab drama naskah juga memberikan
kemungkinan untuk pementasan. Latar biasanya meliputi tiga dimensi yaitu :
tempat, ruang, dan waktu.
6. Amanat
adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang keoada penonton. Amanat drama
atau pesan disampaikan melalui peran para tokoh drama.
7. Dialog(
percakapan)
Ciri
drama adalah naskah itu berbentuk cakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog
ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam
kehidupan sehari – hari.
Peran Unsur Pendukung Dalam Seni Drama
Peran adalah perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki
oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat;pemain sandiwara (film) utama.
(KBBI V).
1. Pemain
Pemain merupakan
orang yang memergakan peran dalam cerita. Atau disebut dengan aktor/ aktris.
Beberapa pemain dibutuhkan dalam drama berdasarkan banyaknnya tokoh yang ada
dalam naskah. Agar berhasil memerankan tokoh dalam pementasan, pemain dipilih
secara tepat sesuai dengan peran yang dibutuhkan. Dalam menentukan oemain
disalam drama, lebih mudah memilih pemain yang terdiri dari pemain laki-laki ,
perempuan, anak-anak, remaja dan orang tua.
2. Naskah
drama
Naskah drama
adalah sebuah karangan yang isinya terdapat cerita atau lakon. Dalam naskah
juga termuat nama-nama tokoh dalam cerita, peran tokoh, dialog yang
diungkaokan, dan keadaan panggung yang diperlukan.
3. Sutradara
Sutradara dalam
pemimpin dalam pementasan dra,a. Sebagai pemimpin yang mempunyai tanggung jawab
dalam menyukseskan pementasan drama. Sutradara harus membuat perencanaan yang
matang membuat perencanaan yang matang. Tugas sutradara sangat banyak dan cukup
erat seperti memilih baskah, memilih pemain, melatih pemain, dll
4. Tata
busana
Tata busana
merupakan bagian yang mengatur pakaian pemain , seperti bahan, model dan cara
mengenakanya. Tata busana harus mampu
menfsir dan pementasan riasan dan pakaian yang akan dikenakan.
5. Tata
rias
Tata rias
merupakan bagian yang bertugas dalam menandani/ make up para pemain. Orang yang
mengerjakan tata rias disebut dengan penata rias. Penata rias ada pria dan
wanita. Alat –alat rias seperti bedak, lipstik, pensil alis dan masih banyak
lagi. Penata rias harus memiliki teknik seni dalam merias seperti teknik shading
hidung, meniruskan pipi, menebalkan mata dan teknik lainnya. Selain itu tata
rias harus cekatan dan terampil agar penata rias mampu mengatur waktu sehingga
pemainnya bisa siap untuk naik keatas panggung dengan riasan yang baik
6. Tata
panggung
Panggung adalah
tepat para pemain memeragakan lakon dramanya. Sebagai seni pertunjukkan. Biasanya panggung akan
didesaign lebih tinggi dari pada lantai, leebih tinggi dari tempat duduk
penonton agar penonton yang duduk dibelakang masih mampu menyaksikkan
pertunjukan dengan jelas.
Tata panngung
adalah keadaan panggung yang dibutuhkan dalam memainkan pementasan petugas yang
menata panggung disebut dengan penata panggung
7. Tata
lampu
Tata lampu
adalah bagian yang bertugas dalam pengaturan cahaya panggung. Bagian ini berhubungan
erat dengan tata panggung. Pengaturan cahaya di panggung harus disesuaikan
dengan keadaan panggung yang dibutuhkan.
8. Tata
suara
Tata suara yang
biasanya kita kenal adalah bagian yang mengatur pengeras suara (sound system)
dan musik penggiring. Alat musik yang biasanya digunakan tertu berbeda sesuai
dengan suasana yang dibutuhkan, seperti suara sedih hanya mengunakan seruling
yang ditup dan sebagainya.
9. Penonton
Penonton adalah unsur
yang terpenting dalam pementasan drama, semua unsur drama yang disiapkan tentu
dibuat untukk penonton kesuksesan sebuah drama dapat diukur dari respon para
penonton yang menyaksikannya.
Fasiitas Pementasan
Fasilitas-fasilitas Pementasan
a. Panggung Hidrolik
Sebuah bidang panggung dapat dinaik-turunkan sampai kedalaman
empat meter. Cara kerjanya mirip dengan elevator, yaitu dengan sistem hidrolik
yang memanfaatkan tekana untuk menggerakkan tuas. Dorongan inilah yang
menyebabkan panggung disa dinaik-turunkan, bahkan dimiringkan sampai derajat
tertentu. Sistem operasi panggung hidrolik ini dilengkapi TV monitor. Walaupun
operator berada dibawah panggung, ia dapat melihat keadaan diatas panggung.
b.
Kontrol Cahaya
Pencahayaan panggung dilakukan oleh penata cahaya.
Ia mendapat skrip naskah yang menyertakan keterangan cahaya adegan per adegan.
Dari naskah itulah, ia mengetahui kapan lampu harus menyala atau padam.
Pengoperasian tata cahaya dapat pula menggunakan sistem komputerisasi. Dengan
bantuan alat status cue, penata cahaya memprogram data cahaya ke sebuah file. Dengan
alat ini, saat pertunjukkan berlangsung, pengatur cahaya tinggal mengklik
tombol yang ada pada layar komputer.
c.
Konrol Suara
Dalam pementasan, suara yang keluar dari atas
penggung tidak langsung terengar oleh penonton, melainkan ditangkap oleh alat
penerima gelombang atau receiver. Dari receiver, suara dikirim ke alat
penyeimbang suara, yaitu mixer. Alat penyeimbang tersebut digunakan agar tak
ada suara yang terlalu keras atau terlalu lemah sehingga penonton dapat
menikmati isi teater dengan nyaman. Setelah diolah, mixer mengirimakan
suara-suara tersebut kepada penonton melalui speaker atau pengeras suara.
Proses menangkap, mengolah, dan mengirim suara tersebut hanya memerlukan waktu
sepersekian detik dan mimik muka serta suara bisa diterima oleh pancaindra
penonton pada saat yang bersamaan.
d.
Ruang Gantung
Layar pada panggung bisa diganti-ganti sesuai dengan
tuntunan cerita. Layar-layar itu tergantung diatas panggung. Ruang gantung
tempat menyimpan set dekor ini disebut flybar. Cara kerjanya manual, yaitu
dengan sistem katrol. Layar tak hanya dapat digerakkan dari atas kebawah saja
karena flybar juga mempunyai fasilitas sling yang mampu menggerakkan layar dari
kiri ke kanan. Untuk meringankan beban, pada pengait yang lain diberi pemberat
penyeimbang (counter weight). Set dekor yang tergantung diatas tak hanya
terbuat dari kain atau kertas. Namun, bisa juga berasal dari potongan dinding.
e.
Sistem Akustik
Ada banyak teknologi yang bisa dipakai untuk sebuah
gedung pertunjukkan, tapi ada satu hal yang wajib dimiliki , yaitu akustik yang
baik. Gedung pertunjukkan selayaknya mempunyai kedapan suara yang tinggi.
Fungsinya agar suara-suara dari luar tidak masuk ke dalam. Bunyi hujan,
deru kendaraan, dan lain-lain tidak seharusnya terdengar dari ruangan. Hal ini
akan mengganggu pementasan.
Gedung Kesenian Jakarta (dibangun pada tahun 1883)
adalah salah satu gedung yang mempunyai sistem akustik terbagus. Sekeliling
dinding ruangan terdapat peredam. Suara yang ’lari’ ke atas diredam dan
dipantulkan kembali ke arah penonton. Sedemikian bagusnya akustik di sana,
sampai-sampai, bunyi gemerisik bungkus permen pun bisa terdengar. Itulah
sebabnya, pada saat pertunjukkan berlangsung, penonton tidak diperkenankan
untuk makan, minum, dan memotret.
Seni Drama Sebagai Kerja Kolektif.
Drama adalah bentuk kesenian yang diwujudkan dalam
permainan sebuah tokoh dengan acting. Dalam suatu cerita melalui adegan per
adegan yang digambarkan dalam satu peristiwa yang terjadi dalam satu naskah. Drama disebut seni kolektif dikarenakan melibatkan banyak orang. Orang-orang
mementaskan dengan berbagai action dan beraneka ragam kostum,tatarias yang
digunakan.
Pertunjukan drama merupakan sebuah
kerja kolektif. Sebagai kerja seni yang kolektif, pertunjukan drama memiliki
proses kreatifitas yang bertujuan agar dapat memberikan sajian yang layak bagi
penontonnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Endraswara (2011:38) yang
mengemukakan bahwa Pementasan drama merupakan karya kolektif yang
dikoordinasikan oleh sutradara, yaitu pekerja teater yang kecakapan dan
keahliannya memimpin aktor-aktris dan pekerja teknis dalam pementasan. Pada
dasarnya naskah drama menjadi karya sastra jika dihadirkan hanya sebagai sebuah
naskah tertulis. Karya tersebut akan memiliki dimensi yang berbeda jika
divisualisasikan dalam bentuk seni pertunjukan. Penyimak pertunjukan drama
tersebut dapat menikmati dan menilai sebuah karya melalui bacaan maupun
menyaksikannya melalui seni pertunjukan. Dewojati (2010:5) mengemukakan bahwa
dalam dimensi seni pertunjukan, drama dapat memberi pengaruh emosional yang
lebih besar dan terarah pada penikmat atau audiensnya. Sebagai sebuah
pertunjukan, drama akan melalui proses penggarapan. Proses ini dipimpin
langsung oleh sutradara. Dalam menyajikan sebuah pertunjukan drama, peran sutradara
sangat penting. Sutradara akan dibantu oleh pelaku seni lainya yang terlibat
dalam proses tersebut. Kreatifitas sutradara untuk menciptakan sebuah
pertunjukan drama tentunya dibekali oleh pengalaman serta pengetahuannya dalam
hal menginterpretasi dan menyajikan pertunjukan.
Endraswara (2011:40) mengemukakan
bahwa dunia panggung akan menentukan keberhasilan penonton menikmati drama.
Eksistensi penonton dalam pertunjukan drama menjadi penting karena penontonlah
yang akan memberikan apresiasi tehadap pertunjukan drama. Pertunjukan drama
bagi penonton adalah objek estetis. Sebagai sarana interpretasi kehidupan.
Endraswara (2011:11) mengemukakan
bahwa Drama tanpa penonton tidaklah lengkap karena drama merupakan sebuah
pertunjukan seni. Drama tanpa penonton jelas sulit ditafsirkan, apakah menarik
atau tidak. Penilaian penonton terhadap karya sastra dalam dikenal dengan
istilah resepsi. Menurut Pradopo dkk (2001:117) resepsi sastra secara singkat
dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak
pada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks itu. Tingkat
pengetahuan, pengalaman serta penerimaan dari tiap-tiap individu akan
mempengaruhi pula penilaiannya dalam memberikan tanggapan. Dalam ilmu sastra
hal ini sering disebut dengan perbedaan cakrawala harapan atau horison harapan.
Resepsi pertunjukan drama berfungsi agar penonton dapat memberikan tanggapan
terhadap apa yang disimak. Tanggapan-tanggapan dari penonton bisa berbeda-beda.
Penonton dalam hal ini telah memiliki penglaman serta pengetahuan tersendiri
untuk memberikan tanggapannya terhadap apa apa yang akan disimak dalam
pertunjukan drama. Endraswara (2011:396) mengemukakan bahwa hubungan drama
dengan audien mengandung implikasi estetik dan komunikatif.
DAFTAR PUSTAKA
Adjib
Hamzah, A. 1985. Pengantar Bermain Drama.
Bandung.CV. Rosda.
Asmara,
Adhy, Dr. 1983. Apresiasi Drama.
Yogyakarta: Nur Cahaya.
Hasanuddin.
2004. Drama Teori dan Praktik.
Bandung: Titian Ilmu.
Herman RN.
2009. Workshop “ Mengubah Teks Cerpen
Menjadi Naskah Drama”. Aceh: Tamadun Harian Aceh.
Hoa Kim
Nio.1981. Pengajaran Apresiasi Drama.
Jakarta: P3G Depdikbud.
Kasim
Achmad, A. 1981. “ Teater Rakyat Indonesia” dalam Analisis Kebudayaan.
KBBI EDISI V
Rendra.
1982. Tentang Bermain Drama. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Mohon maaf jika masih banyak kekurangan ^_^
Komentar
Posting Komentar